Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Gaya Hidup Mempengaruhi Terjadinya Mata Myopia

Gaya Hidup Mempengaruhi Terjadinya Mata Myopia
Myopia
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Gaya Hidup Mempengaruhi Terjadinya Mata Myopia Jumlah anak-anak kecil yang memakai kaca mata minus di perkotaan karena menderita rabun jauh alias mata minus lebih banyak ditemukan di perkotaan dibandingkan di desa-desa. Selain karena faktor genetik, gaya hidup juga berpengaruh karena sejak kecil orang moderen di perkotaan lebih jarang keluar rumah.

Di berbagai belahan dunia, jumlah penderita rabun jauh atau myopi terus meningkat dari masa ke masa. Di Amerika Serikat saja, populasi orang berkaca mata minus meningkat dari sekitar 25 persen pada tahun 1970-an menjadi 42 persen di awal tahun 2000.

Faktor genetik memang sangat berperan karena kadang-kadang sifat ini bisa diturunkan, namun itu bukan satu-satunya. Belakangan, gaya hidup di perkotaan yang jarang keluar rumah lebih sering dijadikan kambing hitam karena membuat mata jarang kena sinar matahari.

Otak dan mata berevolusi dengan sangat lambat, sehingga perkembangannya masih sama seperti pada nenek moyang manusia yang hidup jutaan tahun silam. Sinar matahari sangat mempengaruhi indra penglihatan karena hingga masa itu manusia lebih banyak beraktivitas di luar ruangan.

Kini di zaman moderen, manusia lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan dan melihat dengan cahaya buatan yang berasal dari lampu. Perbedaan intensitas cahaya lampu dengan matahari memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan mata, khususnya jarak antara lensa dengan retina.

Karena cahaya lampu relatif lebih redup, berbagai komponen mata tidak berkembang dengan baik sehingga bayangan tidak jatuh tepat pada retina. Akibatnya penglihatan jadi kabur dan harus dibantu dengan kacamata minus agar pandangan jadi lebih fokus.

Teori ini bukan sebatas dugaan, karena sudah dibuktikan dalam berbagai penelitian. Salah satunya seperti yang dimuat dalam jurnal Archieve of Opthamology, yang melibatkan anak-anak keturunan China usia 6-7 tahun yang tinggal di Australia dan Singapura.

Kedua populasi anak-anak tersebut memiliki faktor genetik yang sama, dalam arti jumlah orangtua yang juga mengalami rabun jauh. Namun populasi yang tinggal di Singapura, jumlah anak yang menderita rabuh jauh mencapai 29 persen atau 9 kali lebih banyak dari Australia.

Faktor yang membedakan antara keduanya adalah gaya hidup, karena ternyata anak-anak di Singapura lebih jarang beraktivitas di luar ruangan. Anak-anak di Singapura rata-rata hanya keluar rumah 3 jam/pekan, sedangkan di Australia durasinya mencapai 14 jam/pekan.

"Untuk mengurangi risiko mata minus, caranya sangat mudah. Biarkan anak-anak bermain dan menghabiskan waktunya lebih lama di luar rumah," ungkap Sandra Aamodt, seorang profesor biologi molekuler dari Princeton University seperti dikutip dari NYTimes, Kamis (23/6/2011) - Gaya Hidup Mempengaruhi Terjadinya Mata Myopia.
READ MORE - Gaya Hidup Mempengaruhi Terjadinya Mata Myopia

Penyebab Myopia Yang Satu Ini Terdengar Aneh

Penyebab Myopia Yang Satu Ini Terdengar Aneh
Anak Rajin Belajar
Penyebab Myopia Yang Satu Ini Terdengar Aneh - Karakter orang Asia yang tekun dan pekerja keras membuat pretasi belajar di kawasan ini relatif tinggi. Namun harga yang harus dibayar untuk prestasi tersebut adalah tingginya tingkat kerusakan mata, khususnya rabun jauh atau myopi.

Saat ini, diperkirakan 80-90 persen pelajar di Asia di beberapa kota besar di Asia menderita myopi atau rabun jauh dan harus menggunakan kacamata minus. Sebagian besar di antaranya berada di kawasan Asia Timur seperti Jepang, China dan Korea Selatan.

Bahkan menurut perkiraan tersebut, 10-20 pelajar yang mengalami myopi sudah bisa dikategorikan parah dan berisiko mengalami kebutaan permanen.

Dalam sebuah tulisan di jurnal Lancet, Prof Ian Morgan dari Australian National University mengatakan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah faktor pendidikan. Budaya pekerja keras di kalangan masyarakat Asia membuat para pelajarnya cenderung belajar terlalu rajin.

"Peningkatan kasus myopi di Asia mungkin berhubungan dengan peningkatan intensitas pendidikan. Apalagi belakangan ini, Asia Timur selalu mendominasi peringkat internasional dalam hal prestasi belajar," tulis Prof Morgan seperti dikutip dari Dailymail, Jumat (4/5/2012).

Saat belajar, para pelajar tanmpa sadar cenderung membaca dalam jarak yang terlalu dekat agar posisinya lebih enak. Padahal jika dilakukan terus menerus, maka lensa mata akan melemah sehingga gampang terkena myopi atau sulit melihat obyek di kejauhan.

Selain itu, kurangnya aktivitas di luar ruang diyakini juga mempengaruhi tingginya tingkat rabun jauh atau myopi di kalangan para pelajar Asia.

Penelitian pada binatang menunjukkan, paparan cahaya matahari yang cukup bisa menjaga kesehatan mata karena dapat meningkatkan dopamin di retina. Senyawa ini dapat diyakini mengurangi risiko myopi seperti yang telah dibuktikan pada primata - Penyebab Myopia Yang Satu Ini Terdengar Aneh.
READ MORE - Penyebab Myopia Yang Satu Ini Terdengar Aneh

Pengobatan Diabetes Pada Usia Anak-anak dan Remaja Lebih Sulit

Pengobatan Diabetes Pada Usia Anak-anak dan Dewasa Lebih Sulit
Diabetes Mellitus
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Pengobatan Diabetes Pada Usia Anak-anak dan Remaja Lebih Sulit - Beberapa puluh tahun yang lalu, diabetes banyak dialami oleh orang dewasa. Namun akhir-akhir ini, diabetes tipe 2 juga banyak dialami anak-anak dan remaja. Sayangnya, diabetes jauh lebih sulit diobati pada anak dibandingkan pada orang dewasa.

Sebuah penelitian dilakukan untuk memeriksa pengobatan diabetes di masa muda dan ingin melihat efektifitas beberapa metode pengaturan gula darah pada remaja yang baru didiagnosis diabetes saat berusia 10 - 17 tahun. Para peneliti menemukan bahwa hampir separuh dari semua peserta gagal menstabilkan gula darahnya selama masa penelitian 4 tahun. Bahkan, 1 dari 5 orang peserta mengalami komplikasi serius.

Temuan ini cukup mengejutkan karena karena obesitas dan diabetes semakin meningkat jumlahnya di kalangan remaja. Diabetes yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan serius seperti penyakit jantung, kehilangan penglihatan, gangguan saraf, amputasi dan gagal ginjal.

Sebelum tahun 1990-an, diabetes tipe 2 jarang ditemui pada anak-anak. Tapi karena anak-anak dan remaja di Amerika semakin banyak yang bertambah gemuk, jumlah kasus diabetes mulai meningkat. Sampai saat ini, diabetes tipe 2 masih jarang dijumpai pada anak-anak, tetapi jumlahnya terus meningkat pada tingkat yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2002 - 2005 saja, ada sekitar 3.600 kasus baru diabetes tipe 2 pada anak-anak dan remaja.

Dalam penelitian yang dimuat New England Journal of Medicine ini, peneliti memantau 699 orang remaja kelebihan berat badan dan obesitas yang baru didiagnosis diabetes. Sebagian besar peserta berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. 40% di antaranya adalah orang Hispanik, 33% orang Afrika Amerika, 20% orang kulit putih, 6% orang Indian dan kurang dari 2% adalah orang Asia.

Semua peserta diberi metformin, obat standar yang digunakan untuk mengatasi diabetes tipe 2 dengan cara menormalkan kadar gula darah. Peserta kemudian dibagi menjadi 3 kelompok untuk melihat kemampuan kontrol gula darahnya.

Kelompok pertama menggunakan metformin saja. Kelompok kedua mengunakan metformin ditambah dengan olahraga, diet intensif dan program penurunan berat badan. Sedangkan kelompok ketiga menggunakan metformin ditambah obat lain, yaitu rosiglitazone (Avandia).

Hasilnya, tingkat kegagalan tetap tinggi dalam ketiga kelompok. Sekitar setengah remaja dalam kelompok pertama gagal menurunkan gula darahnya, 47% peserta dalam kelompok kedua juga gagal dan 39% peserta pada kelompok ketiga juga sama.

"Tingkat keparahan penyakit metabolik ini pada anak-anak cukup parah. Saya takut anak-anak ini akan jatuh sakit lebih cepat daripada anak-anak pada generasi sebelumnya," kata peneliti, Dr David M. Nathan, direktur pusat diabetes di Massachusetts General Hospital seperti dilansir New York Times, Kamis (3/5/2012).

Para penulis hanya bisa berspekulasi mengapa diabetes sangat sulit diobati pada anak-anak dan remaja, yaitu bisa disebabkan oleh pertumbuhan yang cepat dan perubahan hormon selama masa pubertas.

"Lima puluh tahun lalu, anak-anak tidak menghindari obesitas dengan membuat pilihan yang sehat, mereka tinggal di lingkungan yang menyediakan lebih sedikit kalori dan banyak aktivitas fisik. Sebelum upaya membuat lingkungan yang mendukung anak-anak untuk makan lebih sedikit dan banyak bergerak berhasil, upaya pengobatan akan selalu gagal," kata Dr David Allen dari departemen pediatri di University of Wisconsin - Pengobatan Diabetes Pada Usia Anak-anak dan Remaja Lebih Sulit.
READ MORE - Pengobatan Diabetes Pada Usia Anak-anak dan Remaja Lebih Sulit

Cara Mencegah Bayi Lahir Dengan Cacat Mental

Cara Mencegah Bayi Lahir Dengan Cacat Mental
Ilustrasi
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Cara Mencegah Bayi Lahir Dengan Cacat Mental - Belakangan ini sering terdengar banyak kasus tentang autisme pada anak. Cacat mental dan kelainan pada anak dapat diminimalisir dengan tindakan preventif dari sang ibu ketika hamil.

Studi baru menghubungkan peningkatan angka autisme secara dramatis dipengaruhi oleh mutasi genetik. Studi lain menyatakan autisme disebabkan oleh antidepresan dan faktor lingkungan lainnya.

Laporan terakhir mengatakan 1 diantara 88 anak menderita autis. Hal ini bukan berita yang mengejutkan lagi, mengingat dunia kini diliputi bahan kimia, stres, depresi, lingkungan yang kacau dan sejumlah besar penyakit.

Berikut 5 tindakan yang dapat dilakukan oleh ibu untuk mencegah kelahiran bayi dengan cacat mental seperti dikutip dari fitpregnancy, Selasa (24/4/2012) antara lain:

1. Jangan Terlalu Parno akan Keganjilan Otak Anak
1 dari 88 bayi menderita autis adalah statistik yang menakutkan. Tapi hal ini berarti masih banyak kemungkinan Anda melahirkan bayi yang sehat. Keganjilan pada otak bayi bukan hanya pertanda autisme tetapi mungkin saja anak memiliki otak yang jenius atau sangat sensitif, artistik, ilmiah, memiliki musikalitas tinggi, atau berbakat seperti Albert Einstein, yang sebelumnya dicurigai menderita autis. Lakukan kontrol ke dokter secara teratur terhadap perkembangan anak Anda.

2. Atasi stres
Stres dan depresi emosional merupakan kasus yang telah umum, khususnya di kalangan perempuan. Jangan menggunakan obat antidepresan untuk meredakan stres karena menurut beberapa studi sebelumnya hal ini berbahaya bagi janin.

Anda dapat mengurangi stres dengan melakukan meditasi, berolahraga, terapi atau mengonsultasikannya kepada dokter agar mendapatkan saran yang tepat.

3. Ubah Lingkungan Anda
Lingkungan rumah yang sehat akan membuat bayi dalam kandungan Anda juga tumbuh dengan sehat. Mulailah mengubah lingkungan Anda dengan membersihkan sumbatan di parit, membersihkan perabot rumah dengan bahan pembersih yang alami seperti baking soda, jus lemon, cuka dan air panas.

4. Mengubah diet Anda
Setiap makanan yang Anda makan akan diserap ke dalam aliran darah Anda. Pewarna dalam permen, perasa buatan dalam sirup dan pengawet dalam makanan kemasan akan ditransfer melalui plasenta yang dapat merangsang pertumbuhan otak kecil bayi dalam rahim Anda.

Jika Anda seorang pria, zat-zat berbahaya yang terkandung dalam makanan tersebut akan berpengaruh pada kualitas sperma. Sekarang ini sedang diadakan penelitian mengenai mutasi genetik yang dikaitkan dengan autisme dengan meneliti sperma.

5. Jangan Terlalu Over dalam Vaksinasi
Kekhawatiran mengenai risiko cacat mental yang mengancam jiwa anak Anda tidak harus diantisipasi dengan memberikan berbagai macam vaksin. Jika hal itu dilakukan maka akan membuat nyawa anak terancam karena pemberian vaksin yang tepat harus diberikan satu per satu sesuai dengan umur bayi. Konsultasikan dengan dokter sebelum memberikan vaksinasi pada anak Anda - Cara Mencegah Bayi Lahir Dengan Cacat Mental.
READ MORE - Cara Mencegah Bayi Lahir Dengan Cacat Mental

Tips Menjaga Agar Jantung Anak Tetap Sehat

Tips Menjaga Agar Jantung Anak Tetap Sehat
Jantung Sehat
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Tips Menjaga Agar Jantung Anak Tetap Sehat - Sekarang ini semakin banyak anak yang berisiko memiliki kolesterol tinggi dan diabetes tipe 2 yang merupakan faktor risiko penyakit jantung. Tapi penelitian di Australia baru-baru ini menyatakan bahwa perubahan gaya hidup yang dibuat sejak masih anak-anak seperti olahraga teratur dan mengontrol berat badan, cenderung mengurangi risiko penyakit jantung di kemudian hari.

"Faktor risiko penyebab penyakit jantung dimulai sejak usia dini. Ubahlah gaya hidup anak Anda mulai dari sekarang untuk mempersiapkan tubuh yang sehat ketika dewasa," kata Robert W. Morrow, MD, direktur medis dari University of Arkansas for Medical Sciences College of Medicine di Little Rock.

Berikut adalah tips untuk membangun jantung sehat pada anak Anda seperti dikutip dari ivillage, Selasa (1/5/2012), antara lain:

1. Berpikir Kreatif
Jika anak Anda tidak menyukai olahraga yang terorganisir, temukan cara lain yang melibatkan aktivitas fisik dalam kehidupan Anda bersama anak sehari-hari. Anda dapat membuat anak melakukan banyak gerak misalnya memutarkan video yang berisi tarian-tarian dan mengajak anak untuk melakukannya bersama-sama.

2. Batasi Waktu Menonton TV
Terlalu lama menonton TV akan meningkatkan masalah kesehatan seperti diabetes jika dilakukan dalam jangka panjang. Selain itu, anak-anak perlu berinteraksi secara sosial dan tidak hanya duduk di depan TV atau bermain video game sepanjang akhir pekan.

Batasi waktu anak untuk menonton TV atau bermain video game dengan mengajaknya melakukan kegiatan menyenangkan di luar rumah seperti berkebun atau berenang.

3. Siapkan Makanan Bersama
Mengajak anak menyiapkan makanan bersama akan membantu anak mengenal beberapa jenis makanan yang sering dikonsumsi keluarganya. Pilihlah makanan yang sehat untuk kesehatan jantung dengan menu yang seimbang

4. Perhatikan Bahan Makanan
Perhatikan label daftar bahan makanan pada makanan kemasan yang Anda beli. Makanan olahan mungkin akan banyak mengandung natrium atau bahan kimia tertentu. Jangan memilihkan makanan ringan yang mengandung banyak natrium, pengawet ataupun lemak yang buruk u8ntuk jantung anak.

5. Membuat Tradisi Keluarga
Buatlah kebiasaan keluarga yang sehat seperti rajin bersih-bersih rumah, jalan-jalan keliling kompleks di sore hari dan membaca majalah kesehatan dan olahraga. Dari kebiasaan sehat orang tuanya, anak kan mengikuti tradisi hidup sehat hingga beranjak dewasa.

6. Berbicara dengan Anak Tentang Kebiasaan Sehat
Ajak anak membicarakan hal-hal kecil mengenai kebiasaan sehat ketika sedang bersantai bersama keluarga.

7. Berikan Penghargaan pada Anak
Terkadang anak hanya akan melakukan kebiasaan sehat yang menurutnya sulit dilakukan jika diberikan penghargaan tertentu dari orangtuanya. Daripada membelikan makanan seperti permen atau coklat, lebih baik berikan anak ayunan atau permainan lain yang bagus untuk gerak anak. Anak yang aktif bergerak akan membuat jantungnya sehat - Tips Menjaga Agar Jantung Anak Tetap Sehat.
READ MORE - Tips Menjaga Agar Jantung Anak Tetap Sehat

Anak Autis Karena Ibu Merokok

Anak Autis Karena Ibu Merokok
Autis
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Anak Autis Karena Ibu Merokok - Wanita yang merokok selama kehamilan cenderung melahirkan bayi yang menderita salah satu jenis autisme yaitu gangguan Asperger.

"Autisme adalah istilah umum untuk beberapa jenis gangguan yang merusak kemampuan sosial dan komunikasi," ungkap Amy Kalkbrenner, asisten profesor di University of Wisconsin-Milwaukee, Joseph J. Zilber School of Public Health dan ketua tim peneliti.

"Apa yang kami lihat adalah beberapa gangguan pada spektrum autisme bisa jadi dipengaruhi oleh faktor seperti apakah seorang ibu merokok selama kehamilan."

Angka ibu yang merokok selama kehamilan masih tinggi di Amerika Serikat meskipun banyak yang tahu bahwa hal ini dapat memberikan dampak yang berbahaya bagi bayi. Kalkbrenner pun menemukan bahwa 13 persen ibu yang anaknya dilibatkan dalam studi ini merokok selama kehamilan.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Environmental Health Perspectives ini, Kalkbrenner dan koleganya membandingkan data dari akte kelahiran ribuan anak dari 11 negara bagian dengan database anak yang didiagnosis menderita autisme yang dimiliki oleh CDC's Autism and Developmental Disabilities Monitoring Network (ADDMN).

Hasilnya, dari 633.989 anak yang lahir pada tahun 1992, 1994, 1996 dan 1998, 3.315 diantaranya diidentifikasi memiliki gangguan spektrum autisme pada usia 8 tahun.

"Studi ini tidak mengatakan secara pasti bahwa merokok merupakan faktor risiko autisme," kata Kalkbrenner seperti dilansir dari LiveScience, Senin (30/4/2012). "Namun studi ini menyatakan adanya kaitan antara merokok dengan tipe-tipe autisme tertentu". Kaitan itu pun membutuhkan studi yang lebih lanjut, tambahnya.

"CDC sendiri baru saja merilis data yang mengindikasikan bahwa 1 dari 88 anak-anak menderita gangguan spektrum autisme," katanya.

Karena autisme melibatkan spektrum yang luas dari kondisi dan interaksi genetika dengan lingkungan yang begitu kompleks, tidak ada studi yang bisa menjelaskan semua penyebab autisme, tambahnya. "Namun tujuan utama dari studi ini adalah untuk membantu menemukan salah satu jawabannya." - Anak Autis Karena Ibu Merokok
READ MORE - Anak Autis Karena Ibu Merokok

Agar Tetap Sehat Bayi Membutuhkan Bakteri

Agar Tetap Sehat Bayi Membutuhkan Bakteri
Bayi Sehat
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Agar Tetap Sehat Bayi Membutuhkan Bakteri - Kehadiran buah hati yang sehat dan cerdas merupakan dambaan para orang tua . Sayangnya, proses tumbuh kembang si kecil kerapkali terganggu oleh berbagai masalah kesehatan. Salah satu gangguan kesehatan yang banyak diderita bayi dan anak-anak berusia di bawah lima tahun adalah diare dan alergi.

Cut Fabiayya, misalnya, menderita alergi dan mencret saat baru berusia lebih dari satu bulan. Bagian pipinya ruam merah. Ia juga mencret berulang kali dalam sehari. Padahal, begitu pulang dari rumah sakit, ia mendapat air susu ibu (ASI) secara eksklusif dari ibunya.

Setelah diperiksa dokter, ternyata ia menderita alergi. Bakat alergi itu berasal dari kedua orang tuanya yang menderita asma. Penyebabnya, selama menyusui, ibunya mengonsumsi susu untuk ibu menyusui dan beberapa jenis makanan yang berpotensi menimbulkan alergi. Untuk mengurangi risiko alergi, selama menyusui, Rifsia, ibu dari Cut Fabiayya, lalu pantang makan ikan laut, kacang tanah, dan telur.

Hal serupa juga dialami Raka Pratama saat menginjak usia lima bulan. Karena sampai dua hari setelah lahir ASI ibunya belum keluar, Raka kemudian diberi susu formula. Beberapa hari kemudian, ia menderita panas tinggi, kulitnya kemerahan terutama di bagian muka, kaki dan badan. Setelah diberi antibiotik, Raka malah mencret sampai 15 kali dalam sehari, tinja yang keluar berlendir dan bercampur dengan sedikit darah, dan pada tubuhnya keluar bercak-bercak merah.

Karena ibunya memiliki riwayat menderita asma, dokter mulai mencurigai adanya gejala alergi susu sapi sehingga disarankan agar susu formula yang biasa dikonsumsi Raka diganti dengan susu formula berbahan dasar kedelai. Setelah diobati dan berganti jenis susu, diarenya cepat sembuh. "Bercak kemerahan pada kulit Raka juga hilang," kata Ny Titin, nenek dari Raka yang sehari-hari tinggal di Ciledug, Tangerang.

Awal kelahiran

Masalah diare dan reaksi alergi dialami bayi-bayi dan kelompok anak berusia di bawah lima tahun di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Bila tidak segera diatasi, bayi dan anak balita yang menderita diare dan alergi akan terganggu proses tumbuh kembangnya pada periode emas pertumbuhan.

Hasil penelitian yang dilakukan Prof Bengt Björkstén dari Institut Karolinska Swedia Björksté n pada tahun 2001 membuktikan, bayi-bayi penderita alergi terbukti mempunyai lebih sedikit Bifidobakteria pada feses atau tinja hingga mereka berusia lima tahun. Sejumlah riset dalam 10 tahun terakhir juga membuktikan perbedaan mencolok komposisi mikrobiota bayi sehat dan alergi di negara-negara dengan prevalensi alergi rendah dan tinggi.

Menurut Bengt Björkstén, pengaruh kondisi awal kelahiran, termasuk cara kelahiran dan penggunaan antibiotik, mempunyai efek sangat besar terhadap pola mikroflora (jasad renik berukuran kecil seperti bakteri dan jamur) saluran cerna. Mikroflora itu sangat penting untuk merangsang sistem daya tahan tubuh dalam kondisi normal, ujarnya menegaskan.

Hasil penelitian (Gronlund et al, Clin Exp Allergy 1999) memperlihatkan, keberadaan bakteri menguntungkan seperti Bifidobakteria pada bayi yang lahir cesar akan tertunda, dan dibutuhkan waktu hingga 6 bulan untuk menyamai bayi yang lahir normal. Oleh karena, bayi yang lahir cesar akan steril dari bakteri baik saat dilahirkan, sedangkan bayi lahir normal telah terpapar bakteri ketika dilahirkan.

Padahal bakteri baik seperti Bifidobakteria (kelompok bakteri menguntungkan atau probiotik di saluran cerna) yang diperoleh pada periode awal kelahiran, diperlukan untuk mengenali dan membentuk toleransi terhadap zat-zat asing yang masuk ke tubuh. Dominasi Bifidobakteria dalam saluran cerna terbukti dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen sehingga bisa membantu kekebalan lokal di daerah pencernaan pada bayi.

"Pentingnya peranan bakteri menguntungkan ini menjelaskan mengapa bayi yang dilahirkan secara cesar dilaporkan memiliki angka kejadian alergi dan infeksi yang lebih tinggi," kata Kepala Divisi Gastrohepatologi Departemen Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo Prof Agus Firmansyah.

Probiotik

Sejumlah penelitian secara klinis menunjukkan, pemakaian beberapa jenis probiotik memberi efek sedang untuk mengatasi eksim pada bayi . Hal ini menarik untuk mengetahui potensi pencegahan alergi dengan mempengaruhi mikroflora saluran cerna melalui pemberian probiotik mikroorganisme non patogen yang memberi manfaat bagi yang mengonsumsinyapada bayi. "Tidak semua bakteri adalah probiotik," ujar Björksté n.

Penggunaan mikroorganisme yang bermanfaat bagi kesehatan telah digunakan sejak lama dan telah terbukti keamanan penggunaan probiotik, bahkan pada bayi dan subjek yang daya tahannya agak lemah. Air susu ibu merupakan sumber alami probiotik. Ini menunjukkan pentingnya peranan probiotik sejak awal kelahiran. Bayi lahir normal yang diberi ASI akan makin sehat karena bakteri probiotik mendominasi mikrobiota saluran cerna, kata Agus.

Maka dari itu, beberapa tahun belakangan ini bakteri probiotik mulai diberikan kepada bayi dan balita dengan memperhatikan aspek keamanan. Hanya preparat probiotik yang sudah diuji secara intensif dan terbukti aman yang boleh diberikan. Probiotik Bifidobacterium lactis merupakan salah satu probiotik yang dinyatakan aman oleh Badan Pengawas Makanan dan Obat-Obatan Amerika Serikat atau US-FDA, ujar Björkstén.

Sebagian besar riset tentang probiotik untuk anak-anak difokuskan pada pencegahan diare, kolik intoleransi laktosa, baru kemudian alergi. Pada tahun 1994, Saavedra dkk melaporkan penurunan drastis angka kejadian diare pada anak-anak yang dirawat di rumah sakit yang diberi probiotik dibandingkan kelompok yang tidak memperoleh probiotik.

Sejauh ini, ada empat penelitian terkontrol menggunakan plasebo yang memberi kan probiotik pada bayi usia 6-12 bulan. Tiga penelitian itu memperlihatkan pengurangan eksim pada anak-anak itu. Hasil temuan itu akan mendorong lebih banyak penelitian lanjutan untuk membuktikan bahwa pemberian probiotik akan mengurangi angka kejadian a lergi pada saluran napas di masa kanak-kanak.

Penyakit alergi itu bersifat kompleks dan penyebabnya multifaktorial. Probiotik telah diteliti untuk membantu mengurangi risiko munculnya reaksi alergi pada bayi. Penelitian itu masih berada di tahap awal dan hasilnya cukup menggembirakan yaitu muncul efek perlindungan signifikan dari probiotik untuk mencegah timbulnya atopik dermatitis .

"Memahami ekologi mikroba membuka cara baru untuk pencegahan dan terapi," kata Björkstén. Bersahabat dengan kelompok bakteri baik diharapkan bisa mengurangi risiko diare dan alergi pada bayi dan balita yang pada akhirnya akan mengoptimalkan tumbuh kembang sang buah hati - Agar Tetap Sehat Bayi Membutuhkan Bakteri.
READ MORE - Agar Tetap Sehat Bayi Membutuhkan Bakteri

Mencegah Diare Anak Dengan Probiotik

Mencegah Diare Anak Dengan Probiotik
Anak Diare
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Mencegah Diare Anak Dengan Probiotik - Kajian mengenai manfaat probiotik terus dilakukan para ahli. Dalam sebuah riset terbaru, para ilmuwan menemukan manfaat bakteri baik ini pada anak-anak, yakni mengurangi lamanya penyakit diare dan mencegah diare akibat penggunaan antibiotik.

Penelitian yang dimuat dalam laporan American Academy of Pediatrics ini disimpulkan dari beberapa riset berkualitas. Kendati demikian para ahli mengatakan belum ada bukti kuat untuk menyarankan penggunaan susu formula yang mengandung probiotik. Probiotik juga tidak disarankan untuk anak yang menderita penyakit berat.

Selama ini produsen makanan dan minuman probiotik selalu mengklaim produk mereka menyehatkan sistem pencernaan dan meningkatkan sistem imun. Padahal, belum ada riset yang bisa membuktikan secara akurat klaim-klaim tersebut.

Mencegah diare anak dengan probiotik. Dalam penelitian terbaru ini anak yang diberi probiotik sejak awal menderita diare akibat infeksi virus memang sembuh lebih cepat. Probiotik juga bisa mencegah diare pada anak-anak yang minum antibiotik.

Akan tetapi anak-anak yang menderita penyakit gangguan kekebalan tubuh atau memakai kateter tidak disarankan mengonsumsi probiotik karena bisa menimbulkan infeksi serius.

Dr.Tod Cooperman, peneliti yang melakukan studi mengenai probiotik, menyebutkan yang harus diperhatikan adalah probiotik baru memberikan manfaat jika dikonsumsi dalam keadaan hidup.

"Harus diketahui bahwa organisme dalam probiotik, baik suplemen atau makanan dan minuman, sering kali sudah mati bahkan sebelum produk itu diberi label," katanya.

Dalam penelitian yang dilakukannya, produk makanan dan minuman probitok untuk anak hanya mengandung 7-21 persen probiotik dari jumlah yang disebut dalam label. Agar bakteri tetap hidup, produk harus disimpan di tempat yang terlindung dari panas, cahaya dan kelembaban - Mencegah Diare Anak Dengan Probiotik.
READ MORE - Mencegah Diare Anak Dengan Probiotik

Hubungan IQ Anak Dengan Cara Menyusui

Hubungan IQ Anak Dengan Cara Menyusui
Ibu Menyusui
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Hubungan IQ Anak Dengan Cara Menyusui - Manakah yang lebih baik, memberikan Air Susu Ibu (ASI) berdasarkan keinginan bayi atau harus disesuaikan dengan jadwal yang telah ditentukan?Ternyata, hasil penelitian terbaru mengindikasikan bahwa aktivitas menyusui berdasarkan keinginan bayi (demand-fed) berkaitan dengan skor IQ yang lebih tinggi pada usia anak-anak, meski hubungan antara keduanya masih perlu diteliti lebih jauh.

Para ilmuwan dari Universitas Essex dan Universitas Oxford Inggris melakukan penelitian dengan cara mengkaji data  10.000 anak yang lahir di awal 1990-an di kota Bristol. Skor IQ anak usia 8 tahun yang ketika bayi menyusui berdasarkan keinginan (demand-fed) mencetak rata-rata empat hingga lima poin lebih tinggi dibanding anak yang menyusuinya berdasarkan jadwal (schedule-fed).

Seperti dipublikasi dalam jurnal European Journal of Public Health,  perbedaan skor IQ juga tampak ketika anak-anak menjalani tes pada usia lima, tujuh, 11 dan 14 tahun.

"Perbedaan antara anak yang menyusui berdasarkan keinginan dan jadwal ditemukan, baik pada bayi yang diberi ASI maupun susu botol," kata peneliti utama Maria Iacovou dari University of Essex.

"Untuk memberi kesan adanya perbedaan adanya empat atau lima poin lebih tinggi pada skor IQ pada sebuah kelas yang terdiri dari 30 orang misalnya, seorang anak yang tepat berada di peringkat tengah semisal peringkat ke-15, dengan perbaikan empat atau lima poin  IQ, akan mendapat peringkat lebih tinggi  antara ke-11 atau 12 di dalam kelas," tambah Maria

Meski demikian, Maria menekankan bahwa penemuan ini masih dalam tahap awal sehingga haruslah berhati-hati untuk menyimpulkan adanya hubungan pasti antara pola menyusui dengan skor IQ.

"Penelitian ini adalah yang pertama dan satu-satunya, dan penelitian lanjutan dibutuhkan sebelum kita dapat mengatakan secara pasti bahwa cara menyusui pada bayi akan memberi dampak jangka panjang pada IQ dan kemampuan akademis anak. Dan sebelum kita dapat mengatakan secara definitif mekanisme apa yang ada dibalik hubungan ini," tambahnya - Hubungan IQ Anak Dengan Cara Menyusui.

READ MORE - Hubungan IQ Anak Dengan Cara Menyusui

Binatang Membantu Perkembangan Mental Anak

Binatang Membantu Perkembangan Mental Anak
Binatang Peliharaan
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Binatang Membantu Perkembangan Mental Anak - Semua anak pasti suka diberi mainan, namun jika diberi pilihan maka akan banyak yang memilih diizinkan memelihara binatang. Anak-anak adalah pencinta binatang, bahkan secara alamiah tidak memiliki rasa takut pada ular atau serangga.

Pada usia sekitar 11 bulan, anak-anak cenderung memiliki ketertarikan lebih besar terhadap kehidupan liar daripada mainan yang hanya benda mati. Daripada memberinya mainan, orangtua lebih disarankan memelihara binatang karena bisa membantu perkembangan mentalnya.

Sebuah penelitian di Rutgers University dan University of Virginia menunjukkan bahwa ketakutan terhadap binatang menyeramkan seperti ular dan laba-laba bukanlah sifat asli manusia khususnya anak-anak. Ketakutan itu baru muncul karena pengaruh lingkungan semasa pertumbuhan.

"Faktanya anak-anak melihat binatang itu sangat menarik, sehingga anak-anak bisa mendapat banyak keuntungan dari memelihara bintang," kata salah seorang peneliti, Vanessa LoBue seperti dikutip dari Telegraph, Sabtu (28/4/2012).

Binatang membantu perkembangan mental anak. Dalam sebuah eksperimen, para peneliti menemukan bahwa anak usia 11 bulan sampai sekitar 3 tahun lebih menyukai binatang seperti ular, tokek dan tarantula atau laba-kaba raksasa. Hanya saja karena berbahaya, binatang itu dimasukkan kandang sehingga tidak bisa disentuh langsung.

Namun setidaknya, dalam penelitian itu terbukti bahwa anak-anak cenderung lebih tertarik melihat binatang daripada mainan seperti boneka dan mobil-mobilan. Bahkan boneka berbentuk binatang tidak bisa memuaskan rasa penasaran anak-anak terhadap dunia satwa.

Dalam kehidupan sehari-hari, para peneliti juga mengamati bahwa anak-anak lebih banyak bercerita atau bertanya tentang binatang daripada mainan. Menurut para peneliti, temuan ini membuka peluang bahwa rasa takut yang berlebihan atau phobia binatang bisa dicegah sejak kecil - Binatang Membantu Perkembangan Mental Anak.
READ MORE - Binatang Membantu Perkembangan Mental Anak

Tanda dan Gejala Bayi Sedang Mengalami Gangguan Pencernaan

Tanda dan Gejala Bayi Sedang Mengalami Gangguan Pencernaan
Bayi
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Tanda dan Gejala Bayi Sedang Mengalami Gangguan Pencernaan - Bayi sangat rentan terhadap masalah pencernaan karena sistem pencernaan bayi belum dikembangkan sepenuhnya untuk mencerna makanan yang kompleks. Jika pencernaan bayi tidak benar, umumnya bayi akan menghadapi masalah pada lambung dan sembelit.

Kebiasaan makan bayi sangat berbeda dengan orang dewasa. Perut bayi butuh waktu untuk berkenalan dengan asupan makanan yang bervariasi. Meskipun masalah ini tidak serius dan bayi dapat mengatasi masalah ini seiring berjalannya waktu, tetapi jika hal ini terus terjadi terlalu lama, bayi perlu mendapatkan perawatan medis.

Berikut beberapa tanda dan gejala yang menunjukkan bahwa bayi Anda mengalami masalah pencernaan seperti dikutip dari onlymyhealth, Jumat (27/4/2012) antara lain:

1. Menolak makan

Ketika bayi menderita masalah pencernaan, kerongkongannya juga akan terpengaruh. Hal ini menyebabkan bayi merasakan sensasi panas di perut, yang mengakibatkan hilangnya nafsu makan.

Bayi jadi kesal dan menunjukkan perubahan suasana hati juga. Sehingga bayi akan menolak makanan yang Anda berikan dengan menangis.

2. Terus menerus cegukan

Masalah pencernaan dapat meningkatkan jumlah asam pencernaan di dalam perut bayi.

Asam tersebut akan meningkatkan kandungan udara di perut yang dapat menyebabkan kram pada otot kerongkongan. Karena kontraksi otot ini, bayi akan mengalami cegukan terus menerus.

3. Kesulitan bernapas

Kandungan asam yang tinggi dalam perut bayi menyebabkan penyumbatan di saluran pernapasan bayi.

Hal ini dapat mengembangkan masalah pernapasan pada bayi dan dapat menyebabkan asma juga.

Selain itu, iritasi terus menerus di saluran udara dapat menyebabkan batuk. Selama siang hari, kondisi ini dapat dikendalikan karena bayi terus bergerak, tapi setelah tidur di malam hari, kondisi ini akan semakin parah.

Kadang-kadang dapat menyebabkan terhalangnya sirkulasi udara pada rongga hidung yang dapat berakibat fatal bagi bayi.

4. Muntah

Kadang-kadang, bayi akan memuntahkan makanannya karena sistem pencernaan yang lemah. Bayi yang tidak dapat memproses makanan memuntahkan makanan yang Anda berikan.

Jika bayi menunjukkan gejala-gejala yang disebutkan di atas, berarti bayi Anda memiliki masalah terhadap pencernaannya dan memerlukan perawatan dan pengobatan yang tepat.

Masalah pencernaan bayi adalah masalah serius yang harus diperhatikan sebelum menjadi rumit dan berakibat fatal bagi bayi Anda - Tanda dan Gejala Bayi Sedang Mengalami Gangguan Pencernaan..
READ MORE - Tanda dan Gejala Bayi Sedang Mengalami Gangguan Pencernaan

Manfaat ASI Sebagai Anti Kanker

Manfaat ASI Sebagai Anti Kanker
Air susu ibu (ASI)
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Manfaat ASI Sebagai Anti Kanker - Air susu ibu (ASI) diketahui mengandung berbagai nutrisi yang sangat berguna bagi bayi. Ternyata salah satu kandungan protein dari ASI ini memiliki sifat sebagai anti kanker.

Studi menunjukkan tingginya kadar protein TNF-related apoptosis inducing ligand (TRIAL) di dalam susu manusia merupakan salah satu sumber aktivitas anti kanker dari ASI.

Para peneliti mengambil sampel dari kolostrum (susu pertama yang keluar untuk bayi baru lahir) serta ASI dari perempuan yang baru menjadi ibu. Lalu peneliti juga mengambil sampel darah dari perempuan sehat serta susu formula.

Ibu-ibu yang terlibat dalam penelitian ini telah dites terlebih dahulu dan memenuhi syarat karena tidak menunjukkan tanda-tanda eklampsia, infeksi atau demam, sehingga bisa melahirkan bayi yang sehat.

Selanjutnya peneliti mengukur tingkat TRAIL dari kolostrum, ASI, darah (serum) dan susu formula. Ditemukan kolostrum dan ASI mengandung 100-400 kali lipat kadar TRAIL yang lebih tinggi dibanding darah, sedangkan pada susu formula tidak ditemukan TRAIL.

"TRAIL merupakan kandidat kuat untuk menjelaskan efek biologis secara menyeluruh dari menyusui dalam melawan kanker," ujar peneliti, seperti dikutip dari MedIndia, Kamis (26/4/2012).

Selain itu hasil studi ini juga menguatkan peran penting dalam pencegahan kanker pada anak, seperti kanker lymphoblastic leukemia, penyakit Hodgkins serta neuroblastoma yang banyak menyerang anak-anak.

Diketahui kanker anak terjadi sekitar 2-4 persen dari seluruh kasus kanker pada manusia dan menyebabkan 10 persen kematian pada anak. Kanker anak kemungkinan besar dapat disembuhkan jika ditemukan pada stadium dini.

Tapi sayangnya melakukan deteksi dini kanker anak tidaklah mudah, karena anak-anak belum dapat memahami dan menceritakan gejala yang dirasakannya. Karena itu peran orang-orang di sekitarnya sangat penting dalam mendeteksi adanya gejala-gejala kanker - Manfaat ASI Sebagai Anti Kanker.
READ MORE - Manfaat ASI Sebagai Anti Kanker

Kandungan Gizi Makanan Bayi Buatan Sendiri Lebih Baik

Kandungan Gizi Makanan Bayi Buatan Sendiri Lebih Baik
Makanan Bayi
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Kandungan Gizi Makanan Bayi Buatan Sendiri Lebih Baik - Saat ini, berbagai produk makanan bayi yang praktis dan beraneka ragam telah banyak tersedia di toko-toko. Namun kemudahan dan ketersediaan itu bukan berarti orangtua boleh selalu memberikan produk tersebut untuk bayinya. Membuat makanan bayi sendiri jauh lebih menyehatkan.

Tak hanya lebih yakin dengan kandungan gizinya, makanan bayi buatan sendiri juga memiliki banyak manfaat. Seperti dilansir Fox News, Kamis (26/4/2012), berikut adalah 8 manfaat membuat sendiri makanan untuk bayi:

1. Lebih terkontrol
"Ketika membuat makanan bayi sendiri, tentukan apa saja yang akan dimasukkan sehingga yakin bahwa bahan-bahannya masih segar dan sehat. Membuat sendiri makanan bayi juga jauh lebih menyenangkan daripada membeli produk makanan bayi di toko," kata Karen Ansel, Juru Bicara Academy of Nutrition and Dietetics.

2. Lebih bergizi
Meskipun produk yang dibeli di toko makanan dimasak pada suhu panas yang sangat tinggi untuk membunuh bakteri, proses tersebut dapat mengubah kandungan mineral. Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Food Chemistry, makanan bayi yang dibeli di toko mengandung kurang dari 20% jumlah yang direkomendasikan.

Kebanyakan produk yang dijual di toko juga banyak mengandung zat tepung, zat aditif dan pengawet. Selain itu, produk-produk ini juga tidak menggunakan bahan organik yang memungkinkan adanya kandungan pestisida berbahaya.

3. Memungkinkan lebih banyak pilihan
Beberapa produk di toko memang menawarkan bebagai variasi rasa atau jenis yang menarik. Tetapi jika membuat makanan bayi sendiri, pilihan bahannya jauh lebih banyak. Membuat sendiri makanan bayi juga dapat menentukan sendiri variasi tekstur makanan. Ketika bayi berusia 9 bulan, bisa ditambahkan berbagai bumbu dan rempah-rempah untuk menambah rasanya.

"Dengan memberikan bayi usia dini berbagai rasa yang berbeda, akan meningkatkan kemungkinan bayi dapat menerima berbagai jenis makanan dibandingkan memberi makanan yang sama berulang-ulang. Lidah bayi akan lebih fleksibel," kata Ansel.

4. Tidak merepotkan
Membuat makanan bayi sendiri jangan sampai memakan waktu lama. Jika ingin membuat dalam jumlah besar, sesuaikan dengan alat dan penyimpanan. Saat bayi menginjak usia 7 bulan, semua buah kecuali apel dapat diberikan dalam bentuk bubur atau langsung diberi tanpa dimasak, kecuali ada larangan dari dokter.

5. Bayi jadi tidak pilih-pilih makanan
Memberikan bayi makanan buatan sendiri sejak dini sangat mengurangi kemungkinan bayi tumbuh menjadi pemilih makanan. Biasanya, bayi berumur 1 tahun yang suka menolak jenis makanan akan membuat pertumbuhannya terhambat sehingga lebih mungkin untuk memilih-milih makanan. Jika terus menawarkan bayi berbagai jenis makanan, hasil kerja keras tersebut akan terbayar dalam jangka panjang.

6. Dapat langsung menambahkan sayuran
Jika bayi merasa senang mengonsumsi buah dan sayuran, maka bayi akan semakin kuat dalam perkembangannya. Dengan mencicipi, melihat, dan mencium rasa alami dari makanan bayi buatan sendiri, bayi akan terbiasa dengan makanan segar.

7. Waktu makan akan menjadi peristiwa yang menyenangkan
Orangtua merupakan pengaruh nomor 1 dalam pembentukan kebiasaan makan anak. Seiring pertumbuhan bayi menjadi pra balita, orangtua dapat membuat makanan sehat yang sama seperti yang disajikan untuk seluruh anggota keluarga.

Makan bersama bayi memang tidak selamanya tepat. Tetapi jika bisa melakukannya beberapa kali seminggu atau membiarkan bayi mengambil sendiri makanannya beberapa potong, akan menyederhanakan kegiatan pemberian makanan di kemudian hari.

8. Membeli makanan bayi sebaiknya jangan terlalu sering
Orangtua terkadang tidak dapat membuat makanan bayi sendiri sepanjang waktu. Jadi, tidak apa-apa jika membeli makanan bayi di toko jika kekurangan waktu, jauh dari rumah atau saat berlibur. Pastikan membaca label kemasan karena semua merek tidak sama dan pilihlah produk organik untuk menghindari kontaminasi pestisida.

"Jika bayi memakan sesuatu yang mengandung pestisida di dalamnya, berat badannya akan turun semakin banyak, lebih banyak dibanding jumlah pestisida yang terkandung di dalam makanan," kata Ansel - Kandungan Gizi Makanan Bayi Buatan Sendiri Lebih Baik.
READ MORE - Kandungan Gizi Makanan Bayi Buatan Sendiri Lebih Baik

Hipertensi Mengancam Anak Obesitas

Hipertensi Mengancam Anak Obesitas
Hipertensi
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Hipertensi Mengancam Anak Obesitas - Orangtua sebaiknya mewaspadai kenaikan berat badan anak. Anak-anak yang menderita kegemukan dan obesitas berisiko menderita tekanan darah tinggi (hipertensi). Sebagaimana diketahui, hipertensi bisa menimbulkan komplikasi di kemudian hari, seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes.

"Dampak kegemukan pada tekanan darah tinggi berbeda-beda pada tiap anak tergantung pada kategori gemuknya," kata Wanzhu Tu, peneliti tentang hipertensi pada anak.

Ia menambahkan, sebenarnya cukup mudah mengurangi risiko hipertensi pada anak. "Turunkan berat badan anak sedikit saja sudah cukup mengendalikan tekanan darah," katanya.

Hipertensi mengancam anak obesitas. Dalam penelitiannya, Tu dan timnya mengumpulkan data tekanan darah pada 1.113 anak. Para peneliti kemudian membandingkan indeks massa tubuh untuk menentukan kadar tekanan darah yang normal berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tinggi badan. Para peneliti menemukan, penurunan BB pada anak yang tergolong kegemukan berpengaruh pada tekanan darahnya.

Para ahli mengingatkan, kegemukan dan obesitas pada anak-anak bukan cuma terkait dengan tekanan darah tinggi, melainkan juga kadar kolesterol yang tinggi, menurunnya resistensi insulin dan fungsi pembuluh darah yang tidak normal.

Hipertensi pada anak memang tidak diketahui penyebabnya. Karena itu, orangtua sepatutnya waspada dan mengukur tekanan darah anaknya secara rutin. Orangtua perlu mencegah anak kelebihan berat badan. Beberapa penelitian juga menemukan, hipertensi pada anak biasanya ditemukan pada anak yang menderita penyakit ginjal, saraf pusat, jantung, serta endokrin - Hipertensi Mengancam Anak Obesitas.
READ MORE - Hipertensi Mengancam Anak Obesitas

Pengaruh Obesitas Pada Anak Terhadap Terjadinya Kanker Hati

Pengaruh Obesitas Pada Anak Terhadap Terjadinya Kanker Hati
Hepar / Hati
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Pengaruh Obesitas Pada Anak Terhadap Terjadinya Kanker Hati - Orang dewasa yang mengalami obesitas saat masa kanak-kanak ternyata memiliki risiko lebih besar untuk menderita kanker hati. Demikian hasil temuan terbaru paru ahli yang dipublikasikan dalam Medical Journal.

Dalam kajiannya, peneliti mengukur berat lahir dan indeks masa tubuh (suatu pengukuran lemak tubuh berdasarkan tinggi dan berat badan yang biasa disebut BMI)  lebih dari 165.000 pria dan 160.000 wanita di Denmark yang lahir antara tahun 1930-1989. Di antara para peserta, sekitar 252 orang mengalami penyakit karsinoma hepatoseluler, bentuk paling umum kanker hati pada orang dewasa.

Pengaruh obesitas pada anak terhadap terjadinya kanker hati. Menurut perhitungan para peneliti, pada usia 7 tahun risiko karsinoma hepatoseluler berkembang dan meningkat sebesar 12 persen untuk setiap kenaikan satu titik BMI. Sedangkan pada usia 13 tahun, risiko meningkat menjadi 25 persen. Temuan ini juga menunjukkan, baik pria atau wanita memiliki risiko yang sama untuk mengembangkan karsinoma hepatoseluler.

Seperti diketahui, faktor lain yang berhubungan dengan perkembangan kanker hati termasuk diantaranya kecanduan alkohol, infeksi hepatitis B dan C, serta penyakit hati lainnya.

Namun uniknya, hasil temuan ini sama sekali tidak berubah meskipun para peserta tidak memiliki faktor risiko seperti telah disebutkan di atas. "Temuan menunjukkan bahwa obesitas merupakan faktor utama dalam pengembangan karsinoma hepatoseluler," kata para peneliti.

"Anak obesitas tidak hanya mengarah pada pengembangan kondisi metabolik yang merugikan seperti misalnya, diabetes tipe 2 dan penyakit jantung, tetapi juga perlemakan hati, yang kemudian dapat mengakibatkan kanker hati," ujar Dr Frank Lammert, anggota asosiasi komite ilmiah Eropa yang khusus menangani studi mengenai Hati.
Rencananya, temuan ini akan dipresentasikan pada hari Kamis dalam International Liver Congress, di Barcelona.

"Pentingnya menjaga indeks masa tubuh (BMI) anak tetap sehat tidak dapat diremehkan. Hasil studi yang menunjukkan hubungan potensial antara obesitas dan perkembangan kanker hati di masa dewasa," tegasnya - Pengaruh Obesitas Pada Anak Terhadap Terjadinya Kanker Hati.
READ MORE - Pengaruh Obesitas Pada Anak Terhadap Terjadinya Kanker Hati

Tips Menjauhkan Obat Dari Jangkauan Anak

Tips Menjauhkan Obat Dari Jangkauan Anak
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Tips Menjauhkan Obat Dari Jangkauan Anak - Anak Anda seringkali mudah terserang flu dan batuk. Tapi memberikan obat flu dan batuk pada anak di bawah umur 6 tahun sangat berbahaya. Menurut American Academy of Pediatrics, pemberian obat pada anak belum terbukti efektif dan menyebabkan overdosis.

Tips menjauhkan obat dari jangkauan anak. Berikut 5 hal yang harus diperhatikan oleh ibu agar anak Anda aman dari obat-obatan yang dapat membahayakan kesehatannya seperti dilansir dari ivillage, Jumat (20/4/2012) antara lain:

1. Jangan menggunakan obat dingin pada anak-anak di bawah usia 6
Jika anak Anda berumur di bawah 6 tahun, jangan mengobati sakitnya dengan menggunakan obat batuk atau penurun demam.

2. Simpanlah obat-obatan di Tempat yang Jauh dari Jangkauan Anak-anak
Akan lebih mudah untuk menyimpan obat-obatan di laci meja yang terkunci agar anak tidak mudah menemukannya ketika sedang bermain.

3. Jangan Menyebut Obat sebagai Permen
Terkadang orang tua menyebut obat atau vitamin hisap dengan sebutan permen agar anak-anak mudah untuk meminumnya. Tetapi hal ini akan berbahaya bagi anak Anda ketika anak menemukan obat-obatan dan berada di luar pengawasan Anda.

4. Jangan Minum Obat di Depan Anak Anda
Rasa penasaran anak pada usia balita sangat tinggi. Anak cenderung mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tua yang terlihat olehnya.

5. Menginformasikan Seluruh Penghuni Rumah untuk Berhati-hati
Anda mungkin benar-benar telah menjauhkan anak Anda dari obat-obatan. Tetapi jika ada orang lain yang tinggal di rumah Anda seperti pembantu atau pengasuh bayi, lebih baik Anda menginformasikan hal yang tidak boleh dilakukan kepada anak Anda mengenai obat-obatan - Tips Menjauhkan Obat Dari Jangkauan Anak.
READ MORE - Tips Menjauhkan Obat Dari Jangkauan Anak